Jumat, 05 Maret 2010

keilahian Yesus Kristus dalam Ibrani 1



DAFTAR ISI





BAB I

PENDAHULUAN



Dalam paper ini penulis akan memaparkan perbandingan antara keilahian Yesus Kristus dengan malaikat yang terambil di dalam surat Ibrani pasal 1. Penulis mengambil tema ini dengan maksud untuk mempertajam konsep pemikiran kita sebagai umat percaya bahwa malaikat merupakan suatu ciptaan yang tidak lebih tinggi dari pada Yesus, walaupun jika dilihat secara sekilas keberadaan malaikat sepertinya tidak di batasi oleh ruang dan waktu dan Yesus yang telah turun dan mengambil tubuh manusia lebih terikat dan dibatasi oleh ruang dan waktu.
Dengan pemaparan ini kiranya penulis berharap setiap pembaca dapat mengerti betapa Agungnya Yesus dan betapa unggulnya Yesus dibandingkan dengan segala ciptaan yang ada bahkan malaikat sekalipun, sebab segala sesuatu diciptakan untukNya atau bagiNya oleh karena segala sesuatu berasal dari padaNya.

BAB II

TEOLOGI KITAB IBRANI


Penulis kitab ini adalah rasul Paulus. Bukti yang mengatakan bahwa rasul Paulus yang menulisnya adalah pengakuan dari rasul Petrus (2 Pet. 3:15-19) dan juga bukti-bukti dari para ahli Alkitab yang, bahkan dalam isi kitab pun tersirat secara eksplisit membuktika bahwa tulisan kitab Ibrani ini adalah tulisan rasul Paulus dan juga dari surat-surat Paulus lainnya. Penerima surat Ibrani ini adalah orang-orang Kristen Yahudi yang tersebar diberbagai tempat dan juga  yang diam di wilayah kerajaan Roma. Namun, dalam cakupan yang lebih luas, para ahli mengatakan bahwa penerima surat ini adalah kepada setiap orang Kristen di segala abad dan tempat. Teologi kitab Ibrani mencakup doktrin Alkitab, doktrin Allah, doktrin Kritus, doktrin Roh Kudus, doktrin Malaikat, doktrin Iblis, doktrin sorga, doktrin keselamatan, doktrin manusia, doktrin akhir zaman, doktrin gereja.[1]
Dalam hal doktrin Kristus yang dijelaskan dalam surat Ibrani ini, Paulus menyatakan bahwa Kristus adalah puncak wahtu Allah yang paling sempurna, lebih sempurna dari pada wahyu para nabi (1:1-4), dan sifat keilahian Kristus adalah kekal. Mempunyai amanat, pekerjaan, kuasa, dan kemuliaan , serta semua yang ada padaNya lebih mulia dan lebih unggul dari pada malaikat (1:5-2:4).

KEILAHIAN YESUS SEBAGAI ANAK ALLAH



Dalam bab ini penulis akan memaparkan pernyataan-pernyataan yang menunjukkan keilahian Yesus sebagi Anak Allah dan juga keilahian Yesus sebagai manusia sejati. Sebelumnya penulis akan memberikan data-data mengenai keilahian Yesus sebagai Anak Allah.
Dalam teks surat Ibrani ini keilahian Kristus ditunjukan dengan suatu pernyataan bahwa pernyataan Allah kepada umat manusia telah dinyatakan pada masa nabi-nabi hingga saat ini Allah sendiri menyatakan karyaNya kepada umat manusia melalui AnakNya, yang mana Anak ini memiliki hak untuk menerima segala yang ada (Ibr. 1:2). Dari kata ini penulis melihat bahwa wahyu Allah dalam bahasa aslinya adalah lalh,saj dari akar lale,w kata yang berarti perkataan yang sudah diucapkan, yaitu perkataan Allah terhadap nabi. Dengan demikian para Ahli mengatakan bahwa wahyu Allah yang telah diberikan kepada manusia hingga saat ini merupakan Alkitab yang kita pegang sekarang. Objek wahyu Allah ini pada ayat pertama yaitu nenek moyang (leluhur), dengan ini menyatakan bahwa pada zaman dahulu Allah telah berinisiatif untuk menyatakan diriNya melalui para nabi kepada para leluhur sehingga mereka dapat melanjutkannya dan menceritakan kisah ini kepada anak cucu mereka yang pada akhirnya bertujuan untuk menyatakan maksud Allah demi menyelamatnkan umat manusia. Yesus sendiri sebagai kalam yang menjelma menjadi manusiayaitu menyataka isi hati Allah dan keselamatan Allah (Yoh. 1:14-18, 3:16-21, 5:19-30, dan 12:45-50) dan wahyu ini dinyatakan secara terus menerus kepada umat manusia.[2] 
Dari argument ini penulis menjelaskan bahwa tingkatan Yesus berbeda dari tingkatan orang-orang yang paling hebat pun dalam sejarah manusia bahkan juga kepada malaikat-malaikat dan dengan Anak inilah maka Allah telah menciptakan segala sesuatu. Dalam bahasa aslinya tou.j aivw/naj yang artinya dunia-dunia atau alam semesta.[3] Selanjutnya dalam teks ini Paulus juga menjelaskan bahwa Yesus datang ke dunia sebagai seorang manusia yang lebih rendah dari pada malaikat, tetapi hal ini dilakukan hanya untuk menjamin keselamatan orang-orang berdosa (2:9). Dengan demikian Kristus mencuci dosa-dosa umat manusia dan Dia telah duduk di sebelah kanan Allah (penjelasan ini muncul berulang-ulang dalam beberapa ayat, 1:13, 8:1, 10:12, 12:2). Selanjutnya penulis melihat hubungan tema wahyu Allah melalui Kristusadalah sebagai gambar wujud Allah melalui ajaran, kehidupan dan pekerjaan Yesus di dunia. Dengan demikian penulis akan menjelaskan bagaimana gambar wujud Allah dinyatakan oleh Yesus, yaitu dalam 7 gambaran:
1.        Wujud kemuliaan Alah yang tak tertandingi
Alkitab, baik dalam perjanjian lama dan perjanjian baru memakai kata ‘mulia’ untuk menunjukkan bentuk cahaya kemuliaan Allah yang tidak bergantung kepada pandangan dan penilaian manusia. Kristus adalah Allah, sama dengan Allah Bapa, sama hidup, sam sifat, sama karakter, sama kerja, sama jasa, maka Ia dapat mewarisi segala kemuliaan Allah dan menyatakan segala cahaya kemuliaan Allah.[4]
2.        Yesus Kristus adalah gambar wujud Allah
Karakter adalah media yang paling tepat untuk menyatakan subtansi Allah, dengan kata lain Yesus adalah gambar Allah dan hal ini bukan merupakan kesimpulan yang dianologisasi ilmu logika melainkan kebenaran yang super logika.[5] Kebenaran mengenai Yesus Kristus dan Allah Bapa yang mempunyai subtansi yang sama, tetapi memiliki pribadi yang berbeda hanya dapat diterima dengan iman. pribadiNya berbeda tetapi subtansiNya sama, maka dapat dinyatakan secara tepat dan sempurna.
3.        Dia dengan kekuasaan FirmanNYa menopang segala yang ada
Bila dilihat dalam bahasa aslinya kata ‘alam semesta’ aivw/naj dan ‘menopang’ fe,rwn memiliki pengertian bahwa sejak alam semesta diciptakan, Dia memakai FirmanNya (Yesus Kristus) untuk mendukung alam semesta sampai sekarang.
4.        Dia menyucikan dosa manusia
Kata ‘menyucikan’ kaqarismo.n (telah bersih atau lebih murni) dan ‘dosa’ a`martiw/n (tidak masuk angka, tidak mengenai sasaran) memiliki pengertian bahwa Yesus Kristus sudah membersihkan dan menyucikan dosa manusia yang tidak percaya, yang tidak mencapai tuntutan Allah atas moralitas manusia sendiri.
5.        Duduk di sebelah kanan Allah yang Maha Tinggi
Kata ‘langit yang tinggi’ sebenarnya lebih cocok bila digabungkan kata ‘tinggi’ u`yhloi/j dengan ‘maha besar’ megalwsu,nhj (artinya agung, luhur yang dipakai pada kedudukan dan karakter yang mulia dan luhur, bukan menunjukkan kapasitas atau space tetapi suatu otoritas) yang berarti Yesus telah menggenapi pekerjaanNya kemudian duduk di sebelah kanan yang luhur dan berkuasa atau bersama dengan yang luhur dan berkuasa layaknya seperti seorang raja.[6]
6.        Nama yang diwarisiNya lebih mulia dan melampaui nama malaikat
Penulis memahami penggunaan kata ini bahwa malaikat adalah yang diciptakan bukan pencipta, dan tidak dalam mengalami dan mengerti segala kehendak Allah hanya dapat menerima berita yang diwahyukan Allah. Sedangkan, Yesus yang adalah Allah sendiri yang ditentukan Allah untuk mewarisi segala yang ada, baru dapat memahami kehendak Allah dan mewahyukan seluruh kehendak Allah (Kol. 2:9).
7.        Memiliki otoritas Firman Allah
Ketika penulis memaparkan point ini maka kita harus berpijak pada tema sentral dari pokok wahyu Allah terhadap manusia melalui AnakNya Yesus Kristus adalah Firman Allah yang berotoritas. Sebab Firman Allahlah yang memulai perananNya dalam penciptaan hingga saat ini.

YESUS LEBIH BESAR MULIA DARI PADA MALAIKAT


Latar belakang penulisan kata ini dapat dimengerti dengan struktur bahwa agama Yahudi dan pengaruh ajaran nabi tentang malaikat membuat umat Kristen Ibrani menjadi bimbang untuk percaya kepada Kristus, sebab mereka menghormati malaikat lebih dari pada Yesus. Maka dengan demikian penulis akan memaparkan ayat-ayat yang mendukung argument ini:
1.      Kristus sebagai anak, dilahirkan (Ibr. 1:5, dikutip dari Mzm. 2:7)
2.      Allah adalah Bapa Kristus, Kristus adalah Annak Allah (Ibr. 1:5, dikutip dari 1 Sam. 7:14, II Taw. 22:9).
3.      Malaikat harus menyembah Kristus (Ibr 1:6, dikutip dari Mzm. 97:7)
4.      Kristus adalah Allah, memiliki takhta dan kerajaan (Ibr. 2:8-9, dikutip dari Mz. 45:7-8, Yes. 61:1,3)[7]
5.      Kristus adalah pencipta langit dan bumi, Ia lebih terdahulu dari langit dan bumi, juga lebih kekal dari pada langit dan bumi (Ibr. 1:10-12, dikutip dari Mzm. 102:25-27)
6.      Kristus duduk di sebelah kanan Allah, menantikan musuhNya menyerah (Ibr. 1:13, dikutip dari Mzm. 110:1)
7.      Kemuliaan Kristus debagai Anak manusia, mendapatkan kemuliaan dan kehormatan sebagai mahkotaNya (Ibr. 2:6-8, dikutip dari Mzm. 8:5-7)
8.      Kristus bersandar kepada Allah Bapa (Ibr. 2:13, dikutip dari Mzm. 28:7)
9.      Kristus memiliki umat Kristen sebagai anak-anak yang dikaruniakan Allah (Ibr. 2:13, dikutip dari Yes. 8:18)
10.  Kristus dan umat Kristen memiliki hubungan persaudaraan (Ibr. 2:12, dikutip dari Mzm. 22:23, 102:22)

YESUS KRISTUS SEBAGAI ANAK SULUNG


Dan ketika Ia membawa pula Anak-Nya yang sulung ke dunia, Ia berkata: "Semua malaikat Allah harus menyembah Dia." (Ibr.1:6) Dalam ayat ini menjelaskan bahwa Yesus merupakan Anak sulung dari Allah. Kata Anak sulung dalam bahasa Yunaninya prwto,tokon, artinya AnakNya yang sulung atau menunjukkan kedudukan yang unggul (Luk. 2:7, Kel. 4:22). Dalam perjanjian baru Kristus disebut sebagai “Anak sulung” disebutkan sebanyak 5 kali, dan bila dilihat konteksnya terlihat suatu perbandingan antara Kristus dengan makhluk-makhluk lain yang menyatakan keunggulan kedudukan Kristus.[8] Dia lebih kekal, lebih awal dari pada segala ciptaan, dan eksistensi segala ciptaan diciptakan untuk diriNya.[9]



BAB III

KESIMPULAN


Setelah penulis memaparkan data-data mengenai kebenaran bahwa Yesus benar-benar Anak Allah yang ilahi, serta Yesus sendiri memiliki perbedaan yang sangat menonjol dari segala ciptaan bahkan dari malaikat pun Yesus memiliki perbedaan yang membuktikan bahwa DiriNya lebih unggul, lebih awal, lebih kekal dan seluruh ciptaan ini ada karena DiriNya dan untuk DiriNya. Penulis juga menyimpulkan pemaparan menjadi beberapa point yang dapat diingat, yaitu:
ü  Dalam kekekalan Kristus adalah Anak Allah, malaikat menjadi anak-anak Allah
ü  Kristus adalah Anak sulung, malaikatk hanya pesuruh
ü  Kristus adalah penguasa yang bertakhta, malaikat hanya melayani di sekitar takhta
ü  Kristus adalah pencipta, malaikat adalah yang diciptakan
ü  Kristus adalah pemenang, malaikat adalah roh pelayan
Dengan demikian perbandingan dan keunggulan Yesus Kristus dengan malaikat tampak begitu jelas. Sehingga tidak perlu diragukan lagi bahwa Yesus Kristus merupakan Firman yang hidup yang pertama, dan yang terkemudian, yang awal dan yang akhir, Dialah Alfa dan Omega (Why. 22:13)



 

DAFTAR PUSTAKA



Berkhof, Louis. Systematic Theology. Michigan: WM. B. Eerdmans, 1984.
Milne, Bruce. Mengenal Kebenaran. Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1993.
Morris, Leon. Teologi Perjanjian Baru. Malang: Yayasan Penerbit Gandum Mas, 1996.
Barclay, William. Pemahaman Alkitab setiap hari: surat Ibrani. Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1995.
Peter Wongso, Eksposisi doktrin ALkitab surat Ibrani (Malang: Seminari Alkitab Asia Tenggara, 1993
Grudem, Wayne. Systematic Theology. Nottingham: InterVarsity Press, 1994.
Ladd, George Eldon. A Theology of the New Testament, revised by Donald A. Hagner. Grand Rapids: Wm. B. Eerdmans Publishing Company, 1993.


[1]Dr. Peter Wongso, Eksposisi doktrin ALkitab surat Ibrani (Malang: Seminari Alkitab Asia Tenggara, 1993), hal. 24-39
[2] Ibid, hal. 66-67
[3] Leon Morris, Teologi Perjanjian Baru (Malang: Yayasan Penerbit Gandum Mas, 1996), hal. 419
[4] Bruce Milne, Mengenal Kebenaran (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1993), hal. 185
[5] Louis Berkhof, Systematic Theology (Michigan: WM. B. Eerdmans, 1984), pg. 317
[6] Dr. Peter Wongso, Eksposisi doktrin ALkitab surat Ibrani, hal. 83
[7] Wayne Grudem, Systematic Theology (Nottingham: InterVarsity Press, 1994), pg. 544
[8] Ibid, hal.108
[9] George Eldon Ladd, A Theology of the New Testament, revised by Donald A. Hagner (Grand Rapids: Wm. B. Eerdmans Publishing Company, 1993), pg. 146

Kamis, 18 Februari 2010

1
PENGANTAR PERJANJIAN LAMA
BAB III
KANONISASI PERJANJIAN LAMA

Perdebatan seputar kanon PL sekarang ini memang kalah gencar daripada kanon PB, tetapi hal
ini tidak berarti bahwa semua topik tentang kanon PL telah menghasilkan konsensus di antara
para teolog. Beberapa isu tetap diperdebatkan, sementara isu-isu lain tetap menjadi misteri.
Istilah
Istilah “kanon” berasal dari bahasa Yunani kanwn. Kata ini telah mengalami perubahan arti,1
walaupun arti-arti yang ada tetap berkaitan. Mula-mula kata ini berarti “tongkat”. Karena pada
jaman dulu tongkat juga dijadikan sebagai alat pengukur, maka kanwn sering dikaitkan dengan
ukuran, pedoman atau peraturan. Hasil pengukuran dengan memakai tongkat ini seringkali
dikumpulkan menjadi sebuah rangkaian. Dengan demikian kata kanwn pun selanjutnya dikaitkan
dengan sebuah daftar yang menjadi pedoman atau ukuran.
Dalam diskusi seputar kanonisasi Alkitab, kata kanwn juga mengalami perubahan arti seperti di
atas. Kanwn mula-mula dipakai dalam arti batasan ajaran atau pedoman iman (Gal 6:16). Sejauh
data yang tersedia, bapa gereja Athanasius (abad ke-4 M) dari Aleksandria kemungkinan besar
adalah orang pertama yang menggunakan kata kanwn dalam arti daftar kitab-kitab yang diakui
sebagai firman Allah. Dalam tulisannya yang berjudul Decrees of the Synod of Nicaea ia
menyebut kitab Gembala Hermas (Shepherd of Herman) tidak termasuk dalam kanon.2
Walaupun istilah kanwn sekarang ini lebih merujuk pada daftar kitab, tetapi makna lain sebagai
ukuran atau pedoman iman tetap tidak dihilangkan. Karena kitab-kitab tersebut adalah firman
Tuhan, maka semua kitab itu harus dijadikan pedoman iman.
Penjelasan di atas mungkin bisa menimbulkan kesalahpahaman. Orang mungkin akan berpikir
bahwa istilah kanwn hanya berkaitan dengan kitab-kitab PB. Hal ini tentu saja tidak tepat. Dalam
diskusi seputar daftar kitab PL yang diakui sebagai firman Allah, istilah kanwn memang jarang
digunakan, namun ide tentang “daftar kitab yang otoritatif” sudah ada jauh sebelum jaman PB,
namun daftar ini tidak disebut dengan istilah kanwn. Pada abad ke-1 M para rabi di Jamnia
menyebut kitab-kitab PL yang otoritatif dengan sebutan kitab yang “mencemarkan tangan”.3
Kenyataannya, kata Yunani kanwn bahkan berasal dari rumpun bahasa Semit qaneh. Sama seperti
kanwn, kata qaneh mula-mula memiliki arti “tongkat” atau “buluh”. Selanjutnya kata ini juga
dipakai dalam arti “timbangan” atau “kaki dian”.4 Kata qaneh tidak pernah diterjemahkan kanwn
dalam LXX, walaupun kata kanwn tetap muncul 3 kali dengan arti yang berbeda-beda (Yud 13:6
1 F. F. Bruce, The Canon of Scripture (Downer Grove: IVP Academic, 1988), 17-18.
2 J. Stafford Wright, “The Canon of Scripture”, The Evangelical Quarterly 19.2 (April 1947):93.
3 Bruce, The Canon, 34-35.
4 Beyer, “kanwn”, Theological Dictionary of the New Testament Vol. III, Gerhard Kittel, ed., trans. by
Geoffrey W. Bromiley (Grand Rapids: Wm. B. Eerdmans Publishing Company, 1965), 596.
2
“cagak pembaringan”; 4Mak 7:21 “peraturan filsafat”; Mik 7:4, di ayat ini kata kanwn artinya
tidak jelas). Philo memakai kata kanwn dalam arti “peraturan”, “perintah” atau “hukum”.
Josephus memakainya dalam arti “ukuran”. Dari penjelasan ini kita dapat mengetahui bahwa
sekalipun kata kanwn dalam arti daftar kitab-kitab yang otoritatif baru dipakai pertama kali di
abad ke-4 oleh Athanasius, namun ide di balik istilah ini sudah ada sebelumnya.
Daftar kitab kanonik
Pembacaan PB secara sekilas sudah cukup untuk menunjukkan bahwa Yesus dan para rasul
mengakui otoritas kitab-kitab PL. Mereka menyebut ayat-ayat PL sebagai kitab suci (Luk 4:21).
Kata “kitab suci” atau “kitab-kitab suci” dalam PB muncul sebanyak 43 kali. Yesus menyatakan
dengan tegas bahwa tidak ada satu bagian pun dari Taurat yang boleh ditiadakan (Mat 5:18).
Segala sesuatu dalam PL harus digenapi (Mat 5:17; Luk 24:27).
Penjelasan di atas membuktikan bahwa pada jaman Yesus sudah ada kitab-kitab tertentu yang
diakui sebagai kitab suci. Bagaimanapun, kita tidak bisa mengetahui secara pasti jumlah kitabkitab
yang dikutip oleh Yesus maupun para rasul. Mereka tidak pernah menyebutkan kitab-kitab
apa saja yang termasuk kitab suci.
Sebagian orang mungkin berpendapat bahwa kitab mana yang diakui sebagai firman Tuhan oleh
Yesus dan para rasul dapat diketahui dari kutipan yang ada. Artinya, jika suatu kitab dikutip oleh
mereka, maka kitab itu pasti adalah firman Tuhan dan layak dimasukkan ke dalam kanon.
Pendekatan seperti ini tampaknya sulit dipertahankan. Para rasul beberapa kali mengutip sumber
yang non-kanonik, misalnya Paulus mengutip pernyataan seorang filsuf Stoa (Kis 17:28-29).5
Sebaliknya, beberapa kitab kanonik justru tidak pernah dikutip secara langsung dalam PB,
misalnya Hakim-hakim, Ruth, Ester dan Kidung Agung. Ketika penulis PB mengutip suatu
sumber maka kita harus memperhatikan cara mereka mengutip sumber itu. Apakah ada indikasi
bahwa para penulis mengakui otoritas dari sumber itu (misalnya dengan penyebutan “kitab suci
berkata”, “seperti ada tertulis”, dsb.)? Begitu pula ketika mereka tidak mengutip suatu kitab
kanonik PL, itu mungkin disebabkan kitab-kitab tersebut memang tidak berkaitan dengan kitab
PB yang sedang mereka tulis. Kita tidak bisa menuntut bahwa semua penulis PB harus mengutip
seluruh kitab PL.6
Karena PB tidak memberi petunjuk yang jelas tentang daftar kitab-kitab kanonik PL, maka kita
sebaiknya memulai penyelidikan dari sesuatu yang sudah pasti terlebih dahulu, yaitu pembagian
kitab-kitab dalam kanon Ibrani. Orang-orang Yahudi menerima 24 kitab sebagai firman Allah.7
5 Lihat C. K. Barret, ed., New Testament Background (rev. ed., San Fransisco: HarperSanFransisco, 1989),
67.
6 Norman L. Geisler & William E. Nix, General Introduction to the Bible (Chicago: Moody Press, 1968),
84-85. Geisler dan Nix menjelaskan hal ini dalam kaitan dengan natur suatu kitab PL. Sebagian kitab bersifat
didaktik dan devosional, sehingga sangat populer dan wajar untuk dikutip, sedangkan kitab-kitab lain tidak memiliki
natur seperti ini sehingga jarang dikutip. Pendapat seperti ini tampaknya terlalu dipaksakan. Kitab 1 & 2 Samuel
yang sangat mirip dengan Hakim-hakim maupun Ruth ternyata dikutip dalam PB (Mat 12:3-4//1Sam 21:1-6).
7 24 kitab ini sama persis dengan 39 kitab dalam versi modern. Jumlah yang berbeda berkaitan dengan cara
penamaan beberapa kitab. Kitab 1 & 2 Samuel digabung menjadi satu kitab, demikian pula kitab 1 & 2 Raja-raja
maupun 1 & 2 Tawarikh. 12 kitab nabi kecil (dari Hosea - Maleakhi) dijadikan satu. Ezra dan Nehemia dianggap
sebagai satu kitab.
3
Semua kitab ini dikelompokkan menjadi TeNaKh: Torah (Taurat), Nebiim (Tulisan Para Nabi)
dan Khetubim (Tulisan-tulisan lain). Berikut ini adalah daftar detil kitab-kitab PL sesuai kanon
Ibrani.
Pembagian Menurut Kanon Ibrani
Torah Nebiim Khetubim
Kitab puisi:
Mazmur
Amsal
Ayub
Nabi-nabi awal:
Yosua
Hakim-hakim
Samuel
Raja-raja Lima Gulungan (Megilloth):
Kidung Agung
Ruth
Ratapan
Ester
Pengkhotbah
Kejadian
Keluaran
Imamat
Bilangan
Ulangan
Nabi-nabi yang kemudian:
Yesaya
Yeremia
Yehezkiel
12 Nabi lain
Kitab sejarah:
Daniel
Ezra-Nehemia
Tawarikh
Ada banyak pertanyaan seputar pembagian di atas. Apakah semua kitab ini diterima secara
bersamaan dan dari semula diatur berdasarkan tiga pembagian di atas ataukah pembagian ini
mengindikasikan penerimaan yang bersifat bertahap? Mengapa Tawarikh ditempatkan setelah
Ezra-Nehemia, padahal secara kronologis seharusnya ada sebelum Ezra-Nehemia? Mengapa
sebagian besar kitab sejarah (menurut versi modern) justru dikategorikan sebagai kitab para
nabi? Mengapa Kitab Daniel malah digolongkan kitab sejarah? Apakah dasar pengelompokan
nabi awal dan yang kemudian? Mengapa Kitab Ruth dikelompokkan dalam jajaran Megilloth?
Mengapa Kidung Agung dan Ratapan tidak dikategorikan sebagai kitab puisi dan dengan
demikian dimasukkan ke dalam golongan pertama?
Beberapa pertanyaan tersebut dapat dijawab, tetapi sebagian tetap menjadi misteri dan topik
perdebatan di antara para teolog. Mari kita mulai dari yang pertama, yaitu sejarah pembagian
kanon Ibrani ke dalam TeNaKh. Sebagian teolog yakin bahwa pembagian kanon Ibrani ke dalam
tiga kelompok tidak terjadi secara bersamaan.8 Sebagian yang lain berpendapat bahwa
penerimaan secara non-formal oleh orang-orang Yahudi harus dibedakan dari proses kanonisasi
yang formal.9 Kelompok yang terakhir ini tetap setuju bahwa kitab-kitab itu secara bertahap
diterima secara non-formal, namun mereka menduga semua kitab itu pada akhirnya diterima
secara resmi dalam suatu peristiwa khusus.
8 H. E. Ryle, The Canon of the Old Testament: An Essay on the Gradual Growth and Formation of the
Hebrew Canon (London: MacMillan, 1895) mungkin adalah orang pertama yang mempopulerkan pandangan ini.
Lihat Stephen Dempster, “An Extraordinary Fact: Torah and the Temple and the Contours of Hebrew Canon, Part
1”, Tyndale Bulletin 48.1 (1997), 27, n13; Bruce, The Canon, 36, n25.
9 Bruce, The Canon, 36-38.
4
Walaupun kita sulit menentukan pendapat mana yang tepat, tetapi kita masih dapat menelusuri
bagaimana suatu kitab diakui otoritasnya (secara formal maupun tidak) oleh orang-orang Yahudi.
Tulisan Musa langsung mendapatkan pengakuan dari orang Israel (Kel 24:3). Tulisan Musa
dikumpulkan dan disimpan di samping tabut perjanjian (Ul 31:26). Yosua diperintahkan Tuhan
untuk menuruti kitab Taurat (Yos 1:8). Pada jaman Raja Yosia ditemukan salinan kitab Taurat
dalam rumah Tuhan, yang menyiratkan bahwa tulisan tersebut diakui sebagai firman Allah (2Raj
23:24). Pada jaman pasca pembuangan pun kitab Taurat tetap diakui sebagai firman Tuhan (Ez
7:6, 10).
Di luar kitab Musa, kita tidak dapat memastikan urutan penerimaan kitab-kitab yang lain.
Alkitab hanya memberikan petunjuk bahwa beberapa nabi yang lebih kemudian mengakui
otoritas pelayanan dari nabi-nabi sebelum mereka (Yer 7:25; Yeh 38:17; Zak 1:4; 7:7).
Bagaimanapun, pengakuan ini tidak merujuk secara eksplisit pada tulisan para nabi. Pengakuan
ini lebih mengarah pada perkataan lisan daripada tertulis. Satu-satunya petunjuk tentang otoritas
tulisan seorang nabi yang diakui oleh nabi lain ada di Daniel 9:2 ketika Daniel mengutip isi dari
tulisan Yeremia. Beberapa teks lain bisa merujuk pada pengakuan terhadap ucapan maupun
tulisan nabi pada masa sebelumnya, misalnya Yeremia mengutip Mikha (Yer 26:18//Mik 3:12),
Mikha mengutip Yesaya atau sebaliknya (Mik 4:1-3; Yes 2:2-4), dsb.
Beberapa bukti tampaknya mengarah pada dugaan bahwa kanon PL sudah final sebelum jaman
PB. Pertama, Lukas 24:44. Dalam bagian ini Yesus memakai ungkapan “kitab Taurat Musa dan
kitab nabi-nabi dan kitab Mazmur” untuk merujuk pada seluruh PL. Penyebutan ini sangat
menarik, karena kitab Mazmur dalam konteks ini kemungkinan besar bukan hanya berdiri sendiri
sebagai suatu kitab, tetapi perwakilan dari seluruh kitab Khetubim (Kitab Mazmur merupakan
kitab pertama dalam daftar kitab-kitab Kethubim).10 Walaupun hal ini hanya sebatas dugaan,11
tetapi dugaan ini tampaknya lebih masuk akal daripada menganggap Kitab Mazmur berdiri
sendiri dan dibedakan dari kitab Taurat dan para nabi. Mengapa Yesus harus menyendirikan
kitab Mazmur (apalagi jika ungkapan “kitab Taurat dan para nabi” sudah merujuk pada seluruh
PL)?12
Kedua, Matius 23:35//Lukas 11:51. Dalam ayat ini Yesus merangkum sejarah penganiayaan
terhadap orang-orang benar dari jaman Habel sampai Zakharia anak Berekhya. Urutan ini pasti
tidak mungkin bersifat kronologis, karena orang benar terakhir yang dibunuh adalah Nabi Uria
(Yer 26:20-23). Penempatan Zakharia bin Berekhya di urutan terakhir sangat mungkin mengikuti
urutan kanon Ibrani. Dalam kanon Ibrani kitab terakhir adalah Tawarikh dan di dalam kitab ini
dicatat tentang kematian Zakharia bin Berekhya (2Taw 24:20-22).13
Ketiga, kitab Yahudi yang lain.14 Kata pengantar Kitab Sirakh berkali-kali memuat ungkapan
“kitab Taurat, para nabi dan kitab-kitab yang lain”. Walaupun sebagian teolog masih
memperdebatkan apakah “kitab-kitab yang lain” merujuk pada Kethubim atau tidak, namun
konklusi ke arah sana tetap lebih masuk akal. Philo membagi kitab suci menjadi “kitab Taurat,
10 Geisler & Nix, General Introduction, 19; Bruce, The Canon, 31-32.
11 Bandingkan Darrell L. Bock, Luke Volume 2, BECNT (Grand Rapids: BakerBooks, 1996), 1937.
12 Lihat pembahasan selanjutnya.
13 Bruce, The Canon, 31.
14 Geisler & Nix, General Introduction, 156-158.
5
kitab para nabi dan lagu-lagu dan hal-hal lain yang bermanfaat bagi pengetahuan dan kesalehan
yang sempurna”. Josephus menyebutkan pembagian kitab suci ke dalam tiga golongan.
Golongan terakhir dia sebut sebagai “lagu-lagu dan pedoman tingkah laku”. Cara Philo dan
Josephus menyebut bagian yang ketiga tampak sangat sesuai dengan karakteristik kitab-kitab
Kethubim. Dengan demikian pengelompokan ke dalam TeNaKh kemungkinan besar memang
sudah ada jauh sebelum pernyataan resmi dalam Talmud Babilonia (abad ke-4).
Terhadap pendapat di atas, ada satu argumen yang mungkin diberikan sebagai bantahan, yaitu
pemakaian ungkapan “kitab Taurat dan kitab para nabi” (Mat 5:17; 7:12; 11:13; 22:40; Luk
16:16; Yoh 1:45; Kis 13:15; 28:23; Rom 3:21) sebagai salah satu cara yang lazim untuk merujuk
pada seluruh PL. Penyebutan seperti ini mungkin menyiratkan bahwa pada jaman Yesus baru ada
dua golongan kitab yang diterima dalam kanon. Bagaimanapun, hal ini dapat dijelaskan dengan
cara yang lain. Penyebutan “kitab Taurat dan kitab para nabi” mungkin hanya sekadar ungkapan
lain untuk 24 kitab (kanon Ibrani) atau 39 kitab (kanon Yunani) PL.15 Dalam hal ini beberapa
nama penulis kitab yang termasuk dalam kategori Kethubim memang disebut sebagai nabi,
misalnya Daud (Kis 2:30), Daniel (Mat 24:15), Ayub (Yak 5:10).16 Para penulis yang memakai
ungkapan “kitab Taurat dan kitab para nabi” sebagai rujukan untuk PL tanpa diragukan juga
menerima otoritas kitab-kitab Kethubim. Sebagai contoh Yesus mengakui otoritas Mazmur
69:10 (Yoh 2:17), Mazmur 78:24 (Yoh 6:31). Di samping itu, beberapa kitab Khetubim juga
sering disebut sebagai “kitab Taurat”, karena ungkapan “kitab Taurat” memang dapat merujuk
pada seluruh PL” (Mat 5:18 bdk. ayat 17; Yoh 10:34//Mzm 82:6; 12:34//Mzm 110:4;
15:25//Mzm 35:19; 1Kor 15:4//Mzm 16:8-10).
Terlepas dari isu apakah pembagian TeNaKh memang sudah populer pada jaman PB atau tidak,
satu hal yang pasti adalah bahwa seluruh kitab PL yang kita kenal sekarang tampaknya sudah
diterima otoritasnya sebagai firman Tuhan pada jaman PB, walaupun ungkapan yang dipakai
berbeda-beda. Bagi orang Yahudi cara pembagian kitab suci sendiri mungkin tidak sepenting
cakupan dari kitab suci tersebut. Hal ini tampak pada penggunaan ungkapan yang sangat variatif
untuk merujuk pada seluruh kitab PL. Cara Josephus membagi kitab suci ke dalam 3 kategori
pun sedikit berbeda dengan urutan TeNaKh.17 Para penerjemah LXX pun memutuskan untuk
memakai urutan sendiri yang berbeda dengan TeNaKh. Pembagian LXX inilah yang selanjutnya
menjadi dasar pembagian dalam Alkitab versi Latin (Vulgata) dan versi modern lainnya.
15 Geisler & Nix, General Introduction, 18.
16 Bruce, The Canon, 32.
17 Dalam Against Apion 1.38-41 Josephus membagi kitab suci menjadi 5 kitab Taurat, 13 kitab para nabi
dan 4 kitab yang berisi lagu-lagu dan prinsip kehidupan.
6
Berikut ini adalah pembagian berdasarkan kanon Yunani:
Pembagian Menurut Kanon Yunani (LXX)
Taurat Sejarah Puisi Nabi Besar Nabi Kecil
Kejadian
Keluaran
Imamat
Bilangan
Ulangan
Yosua
Hakim-hakim
Ruth
1 Samuel
2 Samuel
1Raja-raja
2Raja-raja
1Tawarikh
2Tawarikh
Ezra
Nehemia
Ester
Ayub
Mazmur
Amsal
Pengkhotbah
Kidung Agung
Yesaya
Yeremia
Ratapan
Yehezkiel
Daniel
Hosea
Yoel
Amos
Obaja
Yunus
Mikha
Nahum
Habakuk
Zefanya
Hagai
Zakaria
Maleakhi
#