Selasa, 02 Februari 2010

Tinjauan Teologi mengenai kloning yang sesuai dengan konsep manusia segambar dan serupa dengan Allah

DAFTAR ISI

BAB I 2
PENDAHULUAN 2
BAB II 3
TERMINOLOGI PENGKLONINGAN 3
A. Defenisi kloning (asal-usul dan proses kloning) 3
B. Tujuan pengkloningan 3
C. Manfaat kloning secara umum 5
BAB III 6
TINJAUAN TEOLOGI MENGENAI KLONING SESUAI DENGAN KONSEP MANUSIA SEGAMBAR DAN SERUPA DENGAN ALLAH 6
A. Konsep manusia segambar dan serupa dengan Allah 6
B. Dampak keberdosaan manusia terhadap citra diri manusia. 7
BAB IV 9
KESIMPULAN 9
DAFTAR PUSTAKA 10




BAB I
PENDAHULUAN

Dalam kesempatan ini kami akan mencoba memaparkan konsep cloning atau kloningisasi dengan pandangan Kristen yang sesuai dengan citra diri manusia yang sudah ada sejak awal penciptaan. Kami berharap materi yang kami sampaikan akan membuka wawasan atau menambah pengertian bahwa ada suatu dampak yang kurang baik atau bahkan dapat semakin buruk dari cloning yang telah dilakukan oleh manusia pada masa ini.

Kami akan memaparkan materi ini secara mendasar sehingga diharapkan setiap pembaca dapat mengerti dengan jelas maksud dan dampak kloning dalam kehidupan manusia sehingga kita tahu bahwa hidup kita seutuhnya dikontrol dan dikendalikan oleh Allah secara bijak dan dengan demikian kita akan mengerti bahwa ada suatu keindahan ketika kita semakin mengerti tentang kedaulatan Allah itu di dalam kehidupan manusia yang telah jatuh di dalam dosa. Keunikan manusia sebagai ciptaan yang tertinggi diantara ciptaan lainnya membuat diri manusia seharusnya menyadari bahwa Allah sangat mengasihi manusia dan juga ingin manusia kembali seperti gambar dan rupa-Nya yang sempurna, sehingga keunikan yang kita dapati seharus kita mendatangkan kemuliaan bagi Allah. Dengan penjelasan berikut ini kami menyepakati bahwa keberdosaan manusia ini menimbulkan kebobrokan terhadap citra diri manusia yang telah jatuh ke dalam manusia dari sepanjang sejarah kehidupan manusia hingga saat ini dan juga mengenai karya manusia dalam mengembangkan ilmu biomedis (kloning).



BAB II
TERMINOLOGI PENGKLONINGAN


A. Defenisi kloning (asal-usul dan proses kloning)

Dalam bahasa aslinya yaitu dari bahasa Yunani kloning : klon dan twig, yang berarti prose menciptakan suatu copy makhluk hidup yang identik secara genetik dengan tetuanya atau aslinya atau orisinilnya. Defenisi umum mengenai kloning adalah Pembiakan melalui teknik membuat keturunan dengan kode genetik yang sama dengan induknya. Terapan: Kloning bisa diterapkan terhadap tumbuhan, binatang bahkan manusia. Prosedur Kloning: Kloning dilakukan dengan cara mengambil sel tubuh (sel somatik) yang telah diambil ini selnya (nukleus) dari tubuh manusia yang selanjutnya ditanamkan pada sel telur (ovum) wanita. Perbandingan antara Pembuahan Alami dengan Kloning: Pembuahan alami berasal dari proses penyatuan sperma yang mengandung 23 kromosom dan ovum yang mempunyai 23 kromosom. Ketika menyatu jumlah kromosomnya menjadi 46. Jadi anak yang dihasilkan akan mempunyai ciri ciri yang berasal dari kedua induknya. Dalam proses kloning, sel yang diambil dari tubuh manusia telah mengandung 46 kromosom, sehingga anak yang dihasilkan dari kloning hanya mewarisi sifat-sifat dari orang yang menjadi sumber pengambilan inti sel tubuh.

B. Tujuan pengkloningan

Sebelum kami memaparkan tujuan kloning, kami memberikan pemahaman dasar tentang kloning yaitu merupakan penggandaan suatu organisme kehidupan. Contoh nyata kloning alami adalah adanya kembar dari dua pasang bersaudara. Keduanya identik secara bentuk tetapi berbeda pada perilakunya. merupakan penggandaan suatu organisme kehidupan. Contoh nyata kloning alami adalah adanya kembar dari dua pasang bersaudara. Keduanya identik secara bentuk tetapi berbeda pada perilakunya. Seiring dengan perkembangan teknologi, manusia mulai menyelidiki bagaimana membuat kloning dari suatu makhluk hidup. Tujuannya pun bermacam-macam. Tetapi dari tujuan tersebut setidaknya ada dua tujuan besar mengapa kloning diteliti, yaitu untuk tujuan pengobatan dan tujuan reproduksi. Kloning dilakukan dengan mengambil embrio dasar dari suatu makhluk hidup, kemudian memberikan instruksi pada embrio tersebut agar bisa menjadi makhluk serupa. Embrio dasar tersebut bisa didapatkan dengan mengambil satu sel sehat dari organ manusia, kemudian sel tersebut ditanamkan pada rahim atau pada tempat lain untuk menumbuhkannya hingga kelahiran embrio tersebut.

Namun sebenarnya tujuan dari kloning tersebut dalam study ilmu pengetahuan adalah
• Menentukan urutan basa nukleotida penyusun gen tersebut
• Menganalisis atau mengidentifikasi urutan basa nukleotida pengendali gen tersebut
• Mempelajari fungsi RNA / protein/enzim yang disandi gen tersebut
• Mengidentifikasi mutasi yang terjadi pada kecacatan gen yang mengakibatkan penyakit bawaan
• Merekayasa organisme untuk tujuan tertentu, misalnya memproduksi insulin, ketahanan terhadap hama, dll.

Sarjana-sarjana barat telah banyak melakukan eksperiment yang berhubungan dengan kloning ini. Penelitian dilakukan pada unggas dan mamalia. Dari sekian banyak penelitian untuk unggas hampir seluruhnya berhasil. Contohnya seperti kloning pada chimes (sejenis ayam hasil kloning dari ayam petelur dan ayam berdaging) yang dilakukan oleh Rob Etches. Kloning ini ternyata berhasil dan menghasilkan suatu organisme baru yang unggul yang memiliki daging banyak dan produktif dalam menghasilkan telur. Sedangkan kloning pada mamalia, meskipun berhasil melahirkan suatu organisme tetapi organisme tersebut ternyata tidak memiliki daya tahan tubuh yang memadai sehingga mamalia hasil kloning seluruhnya mati dalam waktu yang singkat setelah dilahirkan, misalnya Gaur (bison thailand yang dikloning agar tidak punah) dan Dolly (domba hasil kloning). Sehingga dari sini kami menyimpulkan bahwa tujuan kloning sebenarnya baik dan bermanfaat bagi umat manusia. Namun sayangnya hal ini sangat memiliki berbedaan yang tidak cocok dan kurang bijaksana menurut pandangan Alkitab.




C. Manfaat kloning secara umum

Ada beberapa manfaat penggunaan kloning yaitu : a) Kloning tumbuhan dan hewan memperbaiki kualitas dan produktivitas tanaman dan hewan. Memanfaatkan tanaman dan hewan, melalui proses kloning, untuk mendapatkan obat. b) Kloning Embrio Kloning embrio terjadi pada sel embrio yang berasal dari rahim istri atas pertemuan sel sperma suami dengan sel telur istri. Sel embrio itu kemudian diperbanyak hingga berpotensi untuk membelah dan berkembang. Setelah dipisahkan sel embrio itu selanjutnya dapat ditanamkan dalam rahim perempuan asing (bukan istri). Akan tetapi jika sel-sel embrio itu ditanamkan ke dalam rahim pemilik sel telur, maka kloning tersebut hukumnya mubah. c) Kloning Manusia walaupun dengan alasan untuk memperbaiki keturunan; biar lebih cerdas, rupawan lebih sehat, lebih kuat dll. Dengan demikian, pada umumnya manfaat kloning berguna bagi tumbuhan dan hewan yang kemudian oleh para ahli dikembangkan melalui uji coba kepada manusia dan ternyata percobaan itu berhasil sehingga menimbulkan keinginan manusia untuk “mengcopy” diri mereka sendiri yang kemudian menimbulkan dampak negatif karena kecendrungan manusia yang merasa ingin lebih dan lebih serta merasa bahwa bisa “menciptakan” sesuatu.



BAB III
TINJAUAN TEOLOGI MENGENAI CLONING SESUAI DENGAN KONSEP MANUSIA SEGAMBAR DAN SERUPA DENGAN ALLAH


A. Konsep manusia segambar dan serupa dengan Allah

Kami akan memulai dengan menjelaskan terminologi dasar dari penciptaan manusia yaitu dari kata “ Tselem, dan, Demuth ” (Kej. 1:26). Manusia diciptakan menurut gambar dan rupa Allah, kata gambar dan rupa ini berasal dari kata tselem (Ibrani), image (Inggris), dan morphe (Yunani) yang memiliki pengertian yaitu suatu gambar yang memiliki bentuk atau patronnya. Dari konsep ini kita akan langsung mendapatkan pemahaman yang salah jika kita memandang bahwa Allah memiliki konsep yang sama persis secara fisik dengan manusia dan yang nantinya akan membuat kita berpikir bahwa wajah dan fisik Allah banyak karena sesuai dengan jumlah manusia yang ada di bumi ini.

Demuth yang berarti teladan atau rupa, likeness (Inggris), skema (Yunani), yang memiliki pengertian mirip dengan bentuk dalam arti sesuatu yang modelnya harus seperti bentuk yang pertama dan berari hidup kita harus sesuai dengan bentuk pertama. Sedangkan kata “dan” dalam teks aslinya tidak muncul, sebab kata ini muncul dalam penerjemahan Alkitab ke dalam bahasa Yunani (Septuaginta/LXX). Sehingga konsep atau pemahaman mengenai segambar dan serupa ini adalah sama dan tidak seharusnya dibedakan dengan adanya kata penghubung tersebut. Dalam I Kor. 11:7, menjelaskan bahwa manusia tercipta dengan memiliki kesucian dan kepribadian. Kesucian yang dimaksud adalah manusia dijadikan dengan pengetahuan yang baik dan jahat, manusia dijadikan suci dan tidak berdosa. Sedangkan kepribadian yang dimaksud adalah manusia dijadikan satu pribadi seperti Allah, dan memiliki pengetahuan tentang dirinya sendiri, dan memiliki kehendak untuk dirinya sendiri. Adapun hasil dari penciptaan manusia yaitu secara jasmani, rohani dan jiwa. Secara jiwa, manusia telah mengetahui banyak hal dari sebab akal budinya. Secara jasmani, manusia manusia itu elok dan mulia. Secara rohani, manusia itu mempunyai kesadaran yang tidak dihalangi dosa, dan memiliki keinsafan akan hal-hal rohani serta memiliki persekutuan dengan Allah yang tidak dihalangi.

Menurut Russel B. Byrum dalam bukunya Christian Theology, ia mengatakan bahwa essensi dari penciptaan manusia itu adalah mengenai hal hubungan religinya kepada Allah yang Maha kuasa, sebagai pencipta alam semesta sehingga tujuan utamanya mengenai relasi manusia dengan Allah Sang pencipta alam semesta. Dari pemahaman ini kami menyimpulkan bahwa sejak dari penciptaan hingga saat ini manusia memiliki satu tujuan hidup yang pasti yaitu untuk berkomunikasi dengan Allah dan bersekutu dengan Allah.

B. Dampak keberdosaan manusia terhadap citra diri manusia.

Setelah kami memaparkan pemahaman mengenai pengertian dasar tentang manusia dicipta, maka setidaknya sudah ada konsep bahwa gambar rupa manusia itu berpola dari sang pencipta yaitu Allah sendiri. Dalam bagian ini kelompok kami akan mensinkronkan dampak dosa terhadap totalitas kehidupan manusia hingga saat ini.

Telah dipahami bahwa Adam dan Hawa telah jatuh ke dalam dosa karena tidak taat terhadap larangan yang diberikan oleh Allah kepada mereka, sehingga menimbulkan dampak yang besar bagi generasi berikutnya. Dosa ini disebut sebagai dosa asal, yang kemudian berkelanjutan dan berdampak hingga umat manusia saat ini. Dalam perkataan James L. Garrett, ia menjelaskan bahwa dosa asal ini berdampak hingga menimbulkan unsur atau sifat dissolute (tidak bermoral) yang akhirnya menimbulkan kecendrungan dari manusia untuk berkelakuan menyimpang terhadap perintah-perintah dan ketetapan-ketetapan Allah. Kebejatan serta kebobrokan manusia ini juga menimbulkan suatu bentuk kesombongan manusia yang ingin meninggikan diri dan beranggapan bahwa merekalah manusia yang sempurna dan makhluk yang dapat menguasai dunia ini, dilihat dalam kejadian 11:1-9 yaitu pembuatan menara Babel yang direncanakan oleh manusia untuk dapat menyamakan diri mereka dengan Allah.

Jadi, dengan demikian kami menyimpulkan bahwa melalui tinjauan teologi terhadap kloning sesuai dengan konsep manusia segambar dan serupa dengan Allah merupakan suatu problem besar dalam kalangan Kristen sebab dari perkembangan biomedis ini dapat menimbulkan kesombongan diri manusia dari keberhasilan mereka ini maka akan hilang konsep atau kepercayaan setiap manusia terhadap Allah, mengapa? Karena manusia akan merasa mampu untuk “menciptakan” diri mereka sendiri sesuai keinginan mereka. Di dalam Alkitab pun keberagaman dan perbedaan merupakan suatu kelengkapan atau kesatuan yang unik bukan merupakan pemisah, hal ini juga berdampak bagi penggunaan kloning sebab semakin banyak kloning dikembangkan maka akan ada makhluk hidup yang seragam dan serupa, dan tidak sesuai dengan segambar dan serupa dengan Allah oleh karena kesamaan yang ada itu membuat dunia akan berisi dengan manusia atau makhluk hidup yang sama dan serupa, coba kita bayangkan dan imajinasikan keadaan tersebut!

Secara teologis dan Alkitabiah, kloning sangat berpengaruh buruk untuk masa depan manusia. Apabila kloning itu berkembang terus-menerus maka secara tidak langsung sang pencipta atau Allah akan hilang dengan sendirinya dari pikiran dan hati manusia serta menimbulkan kehancuran yang fatal jika kita semua akan melupakan Allah yang pencipta atau creator alam semesta dan anugerah yang ada itu bisa “hilang” karena kebobrokan manusia tersebut. Menurut hendrikus Berkhof, citra diri yang sehat itu sendiri tidak pernah menjadi tujuan akhir; tetapi lebih merupakan presaposisi, bantuan dan akibat dari fungsiny seseorang sacara benar di dalam relasi rangkap tiga yaitu antara manusia dengan Allah, manusia dengan sesama, serta manusia dengan alam dan tidak ada relasi keempat yaitu relasi manusia dengan dirinya sendiri.


BAB IV
KESIMPULAN

Setelah kami memaparkan pengertian kloning dan juga ditinjau dari segi teologi maka kami menyimpulkan bahwa seharusnya orang Kristen mengerti dan memahami dampak kloning terhadap kelanjutan kehidupan manusia terutama relasi manusia dengan Allah yaitu persekutuan dan hubungan pencipta dengan yang dicipta perlu adanya ketaatan sikat hamba dalam diri makhluk yang dicipta.

Dengan demikian kami berharap agar pemahaman dan pemaparan yang kami paparkan dapat membuka setiap wawasan dan juga ketaatan serta ketundukan kita sebagai manusia terhadap Allah dan tidak dengan mudah menghilangkan konsep Alkitab yang mengatakan bahwa Allahlah yang menciptakan seluruh alam semesta tanpa menteorikan konsep penciptaan dengan cara manusia atau penelitian secara biologis, karena kita tahu bahwa konsep manusia itu tidak kuat dan relatif serta akan dapat menimbulkan dampak negatife sebagai contoh yaitu teori Darwin. Jadi, mari kita lihat bahwa kedaulatan Allah itu meliputi seluruh kehidupan manusia sejak awal hingga akhir dimana Ia akan datang untuk menjemput dan menghakimi kita.


DAFTAR PUSTAKA

Tong, Stephen. Peta dan teladan Allah: potensi dan krisis sifat manusia. Jakarta: Timur Agung, 1990.

Brill, J. Wesley. Dasar yang teguh. Bandung: Yayasan Kalam Hidup.

Byrum, Russel B. Christian Theology. Indiana: Warner Press, 1972

Garrett, James Leo. Systematic Theology volume 1. Michigan: William B. Eerdmans, 1990.

http://www.indoforum.org/showthread.php?t=53754

http://www.angelfire.com/ri/Ricoaries68/kloning.html

Grudem, Wayne. Systematic Theology.

Berkhof, Hendrik. De Mens Onderweg. The Hague: Boekencentrum, 1962.

Hoekema, Anthony A. Manusia: Ciptaan Menrutu Gambar Allah. Surabaya: Momentum, 2008.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar